APBN 2024 Sebagai Shock Absorber, Mendukung Kebijakan Countercyclical di Tengah Ketidakpastian Global

Jakarta, Kompas 1 net – Perkembangan Perekonomian sampai dengan pertengahan Juni 2024

1. Ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Geopolitik masih menjadi faktor risiko terbesar antara lain meningkatnya konflik dan friksi antarnegara (perang di Ukraina, krisis Timur Tengah, dan friksi antara AS dan Tiongkok), maraknya kebijakan industri global, peningkatan jumlah sanksi dan restriksi dagang, serta melemahnya peran institusi global.

Bacaan Lainnya

2. Faktor geopolitik dan perubahan iklim masih mempengaruhi rantai pasok dan memberikan tekanan pada volatilitas harga komoditas. Secara year-to-date (ytd) sampai dengan 25 Juni 2024, harga minyak bumi (Brent) naik 11,7%, harga CPO naik 4,3%, harga gas alam naik 6,0%, sedangkan batu bara masih terkontraksi 9,2%. Sementara, komoditas pangan seperti beras, naik 7,0%, namun kedelai dan gandum turun masing-masing 9,5% dan 11,7%.

3. Neraca perdagangan bulan Mei masih melanjutkan surplus 49 bulan berturut-turut, di angka USD2,93 miliar. Nilai ekspor tercatat USD22,3 miliar atau tumbuh 2,9% (yoy), sementara impor mencapai USD19,4 miliar atau terkontraksi 8,8% (yoy).

4. Inflasi domestik bulan Mei terkendali, sebesar 2,84% (yoy) atau -0,03% (mtm) dan 1,16% (ytd), dipengaruhi inflasi volatile food yang menurun karena tekanan harga pangan mereda.

5. Indikator perekonomian domestik tetap terjaga positif. Pada Mei 2024, Indeks Keyakinan Konsumen tercatat 125,2, Mandiri Spending Index menunjukkan normalisasi konsumsi di level 45% (yoy), dan Indeks Penjualan Riil tumbuh 4,7% (yoy). Dari sisi produksi, PMI Indonesia masih terjaga ekspansi selama 33 bulan terakhir di level 52,1. Konsumsi semen melanjutkan pertumbuhan di level 11,2% (yoy), serta konsumsi listrik untuk bisnis dan industri tumbuh kembali masing-masing 8,6% (yoy) dan 1,8% (yoy).

6. Pasar keuangan domestik masih volatile di tengah ketidakpastian global. Hingga 25 Juni, Rupiah terdepresiasi sebesar 6,58% (ytd). Yield SBN Rupiah sedikit membaik di bulan Juni meski secara ytd masih meningkat 63 bps. Hingga 24 Juni, pasar SBN mencatatkan outflow Rp42,37 triliun secara ytd atau outflow Rp7,29 triliun secara mtd. Pasar saham mencatatkan outflow Rp6,14 triliun secara ytd atau outflow Rp2,01 triliun secara mtd.

Perkembangan APBN sampai 31 Mei 2024

1. APBN telah mencatatkan defisit karena kinerja belanja yang semakin baik. Kontraksi penerimaan yang terdampak risiko global perlu diwaspadai dan dimitigasi.

2. Realisasi Belanja Negara mencapai Rp1.145,3 triliun (34,4% dari pagu APBN), tumbuh 14,0% (yoy). Komponen Belanja Pemerintah Pusat (BPP) terealisasi sebesar Rp824,3 triliun (33,4% dari pagu), tumbuh 15,4% (yoy). Belanja K/L terealisasi sebesar Rp388,7 triliun (35,6% dari pagu) antara lain dipengaruhi oleh pembayaran JKN/KIS, penyaluran bantuan sosial, pembangunan infrastruktur dan dukungan pelaksanaan Pemilu. Belanja Non K/L terealisasi sebesar Rp435,6 triliun (31,6% dari pagu) antara lain dipengaruhi realisasi subsidi energi dan pembayaran manfaat pensiun.

3. Anggaran Prioritas tahun 2024 tetap dijaga dalam rangka mendorong pertumbuhan, meningkatkan kualitas SDM, serta merespons dinamika kesehatan dan ketahanan pangan. Realisasi belanja infrastruktur mencapai Rp112,9 triliun (26,7%), pendidikan Rp217,6 triliun (32,7%), kesehatan Rp60,3 triliun (32,2%), dan ketahanan pangan Rp26,1 triliun (22,8%).

4. Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp321,0 triliun (37,4% dari pagu), tumbuh 10,5% (yoy). Kinerja penyaluran DAU, DBH, Dana Desa, Dana Keistimewaan dan DAK non fisik lebih baik dari tahun sebelumnya, masing-masing tumbuh 14,8%, 10,8%, 20,5%, 4,3%, dan 0,03% (yoy) . Sementara beberapa jenis TKD, seperti DAK Fisik, Dana Otsus, Hibah dan Insentif Fiskal lebih rendah penyalurannya dibandingkan tahun lalu.

5. Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp1.123,5 triliun (40,1% dari target APBN 2024). Penerimaan Pajak mencapai Rp760,4 triliun (38,2% dari target), terkontraksi 8,4% yoy. Penerimaan pajak masih mengalami kontraksi terutama disebabkan oleh peningkatan restitusi yang signifikan dan penurunan pembayaran PPh Badan Tahunan dampak harga komoditas.

6. Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp109,1 triliun (34,0% dari target), terkontraksi 7,8% yoy. Bea Keluar tumbuh positif (49,6%, yoy) didorong oleh kebijakan relaksasi ekspor mineral mentah yang masih berlanjut. Bea masuk dan Cukai terkontraksi karena penurunan nilai impor dan dampak relaksasi penundaan pelunasan Cukai Hasil Tembakau.

7. Realisasi PNBP mencapai Rp251,4 triliun (51,1% dari target), terkontraksi 3,3% yoy. Kontraksi dipengaruhi tekanan pendapatan SDA karena menurunnya HBA dan lifting minyak dan gas bumi. Sementara itu Pendapatan KND dan BLU mengalami kenaikan dipengaruhi oleh setoran dividen BUMN dan pendapatan dari layanan RS, jasa pendidikan dan pengelolaan kawasan otoritas.

8. APBN sampai dengan 31 Mei 2024 mengalami defisit sebesar Rp21,8 triliun (0,1% PDB). Keseimbangan primer tercatat positif sebesar Rp184,2 triliun. Realisasi pembiayaan anggaran on track, mencapai Rp84,6 triliun (turun 28,7% yoy). Strategi pembiayaan melalui utang dan non-utang terus dijalankan dengan prinsip pruden, terukur, oportunistik, dan fleksibel untuk mendapatkan pembiayaan yang paling efisien dan optimal.

9. Sebagai kesimpulan, di tengah rambatan risiko global, kinerja perekonomian domestik dan APBN tetap terjaga baik. Dampak risiko global terhadap perekonomian dan pasar keuangan domestik terus diantisipasi dan dimitigasi. Pemerintah terus mengoptimalkan peran APBN sebagai shock absorber dan memastikan konsistensi macro-policy mix dalam rangka mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas perekonomian.

Deni Surjantoro

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi

Sumber :  Siaran Pers Kementerian Keuangan

Pos terkait